MENOLAK KULIAH DAN MASUK SATUAN POLISI, PEMUDA KABUPATEN BANDUNG PILIH JADI PENGUSAHA TANI MUDA

MENOLAK KULIAH DAN MASUK SATUAN POLISI, PEMUDA KABUPATEN BANDUNG PILIH JADI PENGUSAHA TANI MUDA

Ekonomi 0 Comment 47

KAB. BANDUNG, Gemantara News

Menolak untuk melanjutkan kuliah dan masuk kesatuan polisi adalah pilihan seorang pemuda asal Desa Cukanggenteng, Kecamatan Pasirjambu, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Ia bernama Dede Koswara, pria berusia 31 tahun.

Dede berkisah saat lulus SMK ia ditawari beberapa pilihan oleh orang tuanya. Namun, ia lebih memilih menjadi seorang petani yang jarang sekali menjadi pilihan anak muda seusianya. Ia bercerita, pilihan tersebut dilatar belakangi pandangannya bahwa profesi petani bukan sebuah pekerjaan rendahan. Ia ingin mengikuti jejak sang ayah menjadi seorang petani, sebab menjadi petani memiliki peran penting dalam kemaslahan hidup masyarakat.

“Saya tidak mau bekerja dibawah telunjuk orang lain!” Pungkasnya dengan tegas. Sehingga sejak terlontarnya kalimat tersebut Dede bertekad untuk menjadi seorang pengusaha tani yang sukses.

Pada tahun 2010, Dede mulai bertani menanam tomat di lahan pemberian orang tuanya. Selain bertani, ia juga mempelajari proses distribusi komoditas. Saat itu Dede benar-benar mendalami pengetahuan di bidang pertanian. Ia tak hanya bertani lalu panen dan menjualnya ke tengkulak dengan harga jual pas-pasan. Sejak awal, ia mendistribusikan sendiri hasil taninya ke pasar-pasar dari Cirebon hingga Tangerang, dengan mengendarai mobil pikap.

“Pada awalnya saya minta (tanah) 100 tumbak ke orang tua. Awalnya hanya untuk menanam tomat. Menanam sendiri, menjual sendiri, saya ngikutin pola orang tua. Menanam tomat itu dari (lahan) 100 tumbak pelan-pelan bisa memperluas (lahan) menjadi 200 tumbak hingga 300 tumbak. Ditambah lagi komoditasnya tanam jagung dan cabe.” Tutur Dede pada Gemantara News.

Tahun 2016, seorang pedagang dari Tangerang meminta Dede untuk mengirimkan labu siam atau yang lebih dikenal dengan sebutan labu acar yang ternyata jumlah permintaannya cukup tinggi.

Meskipun tidak memiliki stok labu acar di lahannya, Dede menyanggupi permintaan tersebut. Saat itu, ia menghubungi kolega-kolega petani di desanya yang menanam labu acar dan mengumpulkan hasil panen mereka.

Bermula dari situ, Dede berinisiatif untuk menanam labu di lahannya. Sayuran yang biasa dijadikan lalapan ini ternyata menghasilkan untung besar buatnya.
“Setelah empat bulan tanam labu bisa panen setiap dua hari sekali,” ungkap Dede.

Selain memanen dan memasarkan labu dari lahan pribadi, Dede juga mengumpulkan labu dari petani desa yang sudah diakomodir oleh para pengepul yang biasa disebut beci. Dede juga membentuk Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) dengan nama Reggeneration (Regge) untuk mengakomodir aktivitas para petani dan beci.

Setiap harinya, Dede bisa membeli 20-40 ton labu dari para beci. Labu-labu tersebut dipasarkan ke beberapa pasar di Cirebon, Tangerang, Bogor.

Hasil dari aktivitas pemasaran labu tersebut, Dede bisa mengantongi omzet Rp.50-100 juta/hari. Setiap omzet yang diperoleh selalu ia sisihkan untuk simpanan di Gapoktan Regge yang beranggotakan 2.100 orang.

Selain usaha pertanian, Dede juga memiliki usaha cemilan berupa kerupuk pedas dan macaroni yang ia jual ke pasar-pasar dengan harga Rp.500 per satuan. Dede memberdayakan keluarga sebagai pekerja yang membantunya. Setelahnya, ia memberdayakan warga sekitar untuk menjadi karyawannya.

Meskipun dimasa pandemi omzet yang ia terima tetap stabil dan tidak menurun. Hasil kerja kerasnya telah membuktikan bahwa petani bukanlah pekerjaan rendahan. Hasil kerja kerasnya telah terlihat dari bagaimana ia membangun rumah mewah serta membeli mobil berharga ratusan juta. (Diya)

Bagikan Artikel ke :

Shares

Leave a comment

      PT KURNIA CIPTA SARANA KARYA
      NO AHU : 002918.AH.0101 - TAHUN 2019
Gemantara News
Berani Memberikan Informasi yang Akurat dan Terpercaya Demi Mencerdaskan Masyarakat Nusantara.

Back to Top