PPE HARUS MENJADI PINTU MASUK PEMBERANTASAN KORUPSI DI KAB. BOGOR

PPE HARUS MENJADI PINTU MASUK PEMBERANTASAN KORUPSI DI KAB. BOGOR

Berita Daerah 0 Comment 12

KABUPATEN BOGOR, GemantaraNews

Wawancara yang dilakukan oleh redaktur gemantaranews.com kepada mantan aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Ciputat dan mantan pengurus BEM UIN Jakarta, Susilo Utomo terkait pemberantasan korupsi di Kabupaten Bogor menghasilkan beberapa point yang berhasil kami simpulkan.

Kabupaten Bogor dengan potensi APBD yang besar sebagai Kabupaten dengan penduduk terbesar di Indonesia terus menjadi sorotan dalam hal pemberantasan Korupsi di Indonesia, beberapa kali kasus korupsi dan gratifikasi besar terangkat dipermukaan karena tidak hati-hatinya pejabat di lingkungan Pemerintah Kabupaten Bogor dalam mengelola keuangan daerah yang di sepakati dalam APBD.

“Banyak hal yang menjadi faktor mengapa hal ini terus terjadi, di samping pola pemerintahan yang tertutup di Kabupaten Bogor dengan mengutamakan kolega-kolega dan kedekatan pribadi yang memegang jabatan-jabatan strategis tanpa melihat kredibilitas dan integritas si pejabat yang akhirnya bisa saling bekerja sama menutup ruang pengawasan baik publik maupun legislatif, sehingga dengan mudahnya beberapa slot APBD di geser yang akhirnya menimbulkan kerugian tak terkendali”. Ujar Susilo membuka pembicaraan.

Kasus Gratifikasi yang menyeret Mantan Bupati Bogor, Rachmat Yasin harus menjadi sarana introspeksi diri para pejabat di lingkungan Kab Bogor, “betapa hal ini mencoreng nama baik Kabupaten Bogor dalam menjalankan tata kelola keuangan daerah yang baik, dimana dengan kekuasaannya seorang pejabat daerah menekan semua lini untuk memenuhi hasrat pribadinya”. Lanjut pria berkacamata ini.

Tomo, panggilan akrabnya melanjutkan, “Muncul lagi kasus terbaru dari PT. Prayoga Pertambangan dan Energi (PPE) yang sampai saat ini menurut kabar kerugiannya mencapai Rp. 80M yang bukan saja berasal dari salah kelola nya Penyertaan Modal Pemerintah (PMP) Kab Bogor yang sesuai Perda Nomor 13 tahun 2013 adalah Rp. 200M yang dikucurkan bertahap sampai tahun 2017, tapi juga ada permasalahan lain mulai dari penelantaran karyawan dan juga hutang swasta yang jumlahnya sangat fantastis”.

Direktur Utama PPE, Radjab Tampubolon hingga saat ini masih bungkam terhadap semua permasalahan yang ada di PPE, “tapi pada saatnya nanti dengan besarnya tekanan publik untuk membuka seluas-luasny kasus ini Radjab pun akan buka suara, DPRD Kabupaten Bogor pada dasarnya pun akan segera bersikap membentuk pansus DPRD untuk membuka dan mengumpulkan bukti-bukti dan fakta-fakta yang terjadi di PPE selama ini, hampir seluruh fraksi di DPRD sudah buka suara untuk segera melakukan langkah strategis dalam penyelesaian kasus PPE ini, direncanakan Januari 2020, pembentukan Pansus akan dimulai”. Tegas orang yang sangat aktif di media sosial ini.

“Sebagai masyarakat, saya berharap tidak hanya sampai pada permasalahan PPE saja, ada sejumlah BUMD yang masalahnya sudah sampai di permukaan dan sudah menjadi sorotan publik, DPRD dan Eksekutif harus bijak mengambil sikap demi perbaikan tata kelola keuangan daerah Kab Bogor yang lebih baik, banyak sekali ketidakberdayaan masyarakat dan kekurangan-kekurangan berbagai sisi kehidupan masyarakat di Kabupaten Bogor, tapi ironisnya yang memilki akses anggaran malah seperti raja yang semena-mena melakukan apapun tanpa mempedulikan nasib masyarakatnya”. Harap Susilo menutup Pembicaraan.

Semoga, di bawah pemerintahan Bupati Ade Munawaroh didampingi oleh Ketua DPRD, Rudy Susmanto, semua masalah bisa segera diselesaikan satu persatu agar cita-cita menjadikan Kabupaten Bogor sebagai Kabupaten Termaju di Indonesia bisa perlahan-lahan diwujudkan, dan dosa-dosa masa lalu bisa segera di selesaikan sehingga bisa tenang kembali bekerja mewujudkan cita-cita mulia demi kemaslahan masyarakat Kab. Bogor.( Biro Bogor)

Leave a comment

      PT KURNIA CIPTA SARANA KARYA
      NO AHU : 002918.AH.0101 - TAHUN 2019
Gemantara News
Berani Memberikan Informasi yang Akurat dan Terpercaya Demi Mencerdaskan Masyarakat Nusantara.

Back to Top