PENASEHAT PWI SUMENEP: WARTAWAN RANGKAP LSM  BAHKAN PREMAN

PENASEHAT PWI SUMENEP: WARTAWAN RANGKAP LSM BAHKAN PREMAN

Berita Daerah 0 Comment 42

SUMENEP, Gemantaranews

Oligarki adalah kekuasaan oleh segelintir orang, dalam konteks media bukan tidak mungkin konten media massa dipengaruhi oleh sekelompok kecil orang.

Dalam diskusi tersebut, dihadiri oleh sejumlah wartawan, LSM Gerakan Masyarakat Bawah Indonesia (GMBI ) dan sejumlah aktifis mahasiswa. Sejumlah jurnalis diujung Timur Pulau Garam Madura yang terlibat dalam Diskusi Media bertajuk “Analisis Konten Media: Demam “Ecek-Ecek” dan Hegemoni Oligarki di Tanah Sumekar tersebut, bertempat di Warung UPNORMAL Sumenep, Madura, Jawa Timur (12/10/2019).

Tampak dua nara sumber yang tidak asing lagi dalam dunia jurnalis, yaitu, Abd. Aziz, wartawan Antara Jatim dan Ketua PWI Pamekasan bersanding dengan wartawan senior di Sumenep, yaitu, Moh. Rifai, Penasehat PWI Sumenep sekaligus komisioner Komisi Informasi Kabupaten Sumenep yang digadang-gadang maju bacalon PWI Jatim, juga terlibat dalam diskusi.

Selain itu, diskusi tersebut dipandu oleh moderator Sulaisi Abdurrazaq, Dosen IAIN Madura, yang saat ini menjabat sebagai Ketua DPC APSI Madura, Ketua YLBH Madura, dan Ketua LKBH IAIN Madura, Jawa Timur.

Diskusi Media digelar maduraku.com mulai pukul 19.30-22.00 dilanjutkan ngopi santai di Warung UPNORMAL.

Dalam diskusi tersebut, Abd. Aziz menyajikan bahwa isi media merefleksikan realitas. Tapi, realitas-realitas isi media dapat tersaji dari hasil kompromi antara pihak yang menjual informasi kepada media dan siapa yang membelinya. Dalam sajiannya, mengajak peserta untuk membaca teori Lasswell dan Pamela J. Shoemaker tentang _The mirror aproach_ dan _The null effect approach,” Kata Abd Aziz dalam sajiannya.

Lanjut dia, Media dapat dipengaruhi ideologi tertentu _(ideological level)_, dapat dipengaruhi individu si pewarta (individual level), dapat dipengaruhi atasan dari si pewarta _(organization level)_, _extra media level_ dan _media routines level.

“Media ecek-ecek dapat diukur lewat barometer analisis Alexa, kata ecek-ecek kan dalam KBBI artinya tidak sungguh-sungguh atau pura-pura, jadi media yang tidak dikelola secara profesional dapat saja dimaknai sebagai media ecek-ecek”, lanjut Ketua PWI Pamekasan dua periode itu”, pungkasnya.

Dalam kesempatan yang sama Sulaisi Abdurrazaq mengungkapkan, masalah status _facebook_ tentang “media ecek-ecek” itu tidak penting, seperti disampaikan Moh. Rifai, masalah itu hanya muter-muter dari wartawan sendiri, _discreenshoot_ sendiri, disebarkan sendiri di internal wartawan, dipermasalahkan dan diviralkan sendiri oleh mereka, padahal mestinya wartawan fokus pada masalah kinerja DPRD yang menyangkut kepentingan masyarakat”, ungkap Sulaisi Ketua YLBHI Madura.

Menurutnya, masih banyak yang harus menjadi atensi media, misalnya: persoalan koruptor migas, pelayanan kapal yang merugikan masyarakat, masalah pengadaan kapal Sumekar III dengan harga berjibun, masalah Pilkades dan interpelasi, masalah infrstruktur di kepulauan Kangean yang tidak terealisasi, masalah listrik yang tidak masuk ke kepulauan, masalah perebutan jabatan di DPR, dan lain-lain”. tuturnya.

“Sebagai konsumen media, kita disuguhi berita yang tidak berkualitas yang malah lebih viral daripada media-media berkualitas yang profesional. yang dimaksud pemberitaan yang berkualitas adalah berita yang fokus pada kinerja instansi bukan malah mempersoalkan masalah status _facebook_, itu kan problem, mungkin karena status itu ditulis politisi ya, sehingga lebih viral”, ujarnya.

Dalam Diskusi Media tersebut, Rudi Hartono, salah satu wartawan yang menjadi korban pelecehan profesi wartawan yang dilakukan oleh oknum karyawan RSI Kalianget menyampaikan keluh kesahnya.

“Sebenarnya teman-teman wartawan yang ada di Sumenep harus lebih tidak terima, jauh lebih tersinggung dan sakit hati bila profesi wartawan dikatakan”, BANCI DAN WARTAWAN NOL KECIL, seperti yang terjadi di RSI Kalianget. Tapi hal itu, tidak dipersoalkan oleh teman-teman wartawan yang lain, apa karena yang mengatakan itu bukan wakil ketua DPRD ? “, tanya Rudi dengan nada kesal.

Pada kesempatan yang sama, Moh. Rifai mengatakan bahwa, media-media yang profesional dan punya integritas di Sumenep tidak menulis soal status _facebook_ ecek-ecek, karena dengan menulis itu media itu menunjukkan dirinya ecek-ecek.

Perhatikan Radar Madura, Kabar Madura, Kompas Group, Surya, Antara, dan media profesional lainnya yang tidak mungkin saya sebutkan satu persatu tidak satupun yang menulis, soal status _facebook_ media ecek-ecek. karena, hal itu tidak ada dampak positif terhadap masyarakat luas, hanya masalah ketersinggungan antara salah satu wartawan dengan seorang anggota DPR, muter-muter di sana aja,” kata Moh.Rifa’i kepada peserta.

Penasehat PWI Sumenep itu menyampaikan bahwa, “saat ini banyak wartawan dadakan tanpa pengetahuan tentang jurnalisme, tak tahu kode etik, minus kompetensi. Banyak wartawan standart ganda, merangkap LSM, merangkap pengacara bahkan merangkap preman.” ungkap penasehat PWI dengan nada serius.

“Selain itu, banyak perusahaan media yang tidak memenuhi standart Undang-Undang, kantor bersama dengan LSM, bersama kantor kontraktor, bahkan ada yang satu ruangan dengan toko”, Tutupnya.(ND)

Leave a comment

      PT KURNIA CIPTA SARANA KARYA
      NO AHU : 002918.AH.0101 - TAHUN 2019
Gemantara News
Berani Memberikan Informasi yang Akurat dan Terpercaya Demi Mencerdaskan Masyarakat Nusantara.

Back to Top