LUPAKAN NEW NORMAL, Dr. TIFAUZIA TYASSUMA

LUPAKAN NEW NORMAL, Dr. TIFAUZIA TYASSUMA

Peristiwa 0 Comment 1208

SUMENEP, GemantaraNews

Sudah. Lupakan. Hapus istilah itu.

Gantinya apa ?

Tidak ada gantinya.

Lalu sekarang gimana sih, Dok Tifa..?

Sekarang, juni sampai dengan Desember, istilah paling tepat adalah : ” BAHAYA”… !

Kita harus bagaimana ?

Sembunyi di gua masing-masing.

Kalau yang mau ngantor bagaimana ?

Bismillah.
Semoga Allah menjaga dan melindungi dari marabahaya dan malapetaka.

Pakai masker, hand sanitizer. Dan tidak usah kemana-mana.
Kalau perlu meeting dengan klien, pakai zoom saja.
Rumah-kantor-pulang.

Kalau sekolah bagaimana ?
Sekolah tetap jalan. Guru stand by di sekolah atau di rumah tergantung kebijakan sekolah masing-masing. Murid di rumah dengan laptop dan wifi.

Bagaimana dengan Pesantren ?
jadikan Pesantren sebagai gua yang aman, steril bagi semuanya, layaknya di rumah.

Lockdown Pesantren, kunci gerbang dari pergerakan orang keluar masuk.tidak terima tamu dulu. masjid tidak menerima pengunjung dari luar.

Santri masuk, pastikan swab dulu atau PCR test. semua barang didesinfektan sebelum masuk pesantren.

Setelah masuk asrama, tidak usah keluar lagi sampai perpulangan. Orangtua tidak usah menjenguk dulu.

“Tapi, Dok Tif, kan gini gini”

“Tapi, Dok Tif, kan gitu gitu”

Tidak ada tapi-tapian. kalau masih tapi ini tapi itu, lebih baik anak-anak cuti dulu. Tahun depan baru masuk pesantren lagi.

“Bagaimana dengan Mall, dokter Tifa ?”

Punya Mall?
Engga kan. Ya sudah biar saja itu urusan Pemerintah dengan yang punya Mall.

Mau buka kek, mau buka tutup kek.
Bukan urusan kita…!!!

Tidak usah ke Mall kecuali urgent banget. misal mau mati kalau tidak ke Mall. Ada gitu?
Ngga ada kan, makanya ngga usah ke Mall dulu.

“Lho nanti Mall sepi dong ? Lalu siapa yang beli dong ?”

Saya tanya lagi ?
Anda yang punya Mall ? Engga kan ?
Napa jadi repot.
Mereka para Owner Mall itu lebih tahu dari Anda bagaimana menyelamatkan diri mereka.

Yang ngga tahu itu kan Anda.
Masih mau keluyuran ke Mall ?

Itu artinya Anda tidak tahu bagaimana menyelamatkan diri sendiri….

“Sekali lagi, Dok Tif.”

Iya, apalagi.

“Kan kata Pemerintah, ada New Normal”..!

Ya sudah kalau tetep ngeyel. Asal kalau Anda ada gejala Covid, jangan ke Rumah Sakit, kasihan Dokter dan Nakes udah lelaaah banget.

Pergi saja ke Istana, tuh depan Monas.
Minta obat dan kalau perlu kamar buat isolasi.

Tidak ada New Normal. Adanya NORMAL !

“Oooh mau dong, Dok”

Ya pasti bakal normal. Kalau Anda semua sepakat masuk gua. Kunci pintu gua baik-baik.
Lakukan semua saran saya di atas

“Sampai kapan ?” Desember.

Tapi dalam gua nya, Serentak seragam mengunci diri di gua. Janji ngga keluyuran kecuali ke warung tetangga atau tukang sayur atau ke kebun surgawi anda masing-masing buat ambil sayur dan bumbu dapur.

Maka, dibulan Januari 2021, kita sama sama keluar dari Gua, lihatlah sekeliling, Hei kemana Corona ? Hilang lenyap. Januari 2021.

Menyikapi hal tersebut, tentunya kita di ajak untuk memahami tentang apa yang dimaksud new normal. menurutnya, new normal adalah membuka kembali aktifitas ekonomi, sosial dan kegiatan publik secara terbatas dengan menggunakan standart kesehatan yang sebelumnya tidak ada sebelum pandemi.

Tapi, ada juga yang berpendapat bahwa new normal upaya menyelamatkan hidup warga dan menjaga agar negara tetap bisa berdaya menjalankan fungsinya. hal ini diberlakukan karena tidak mungkin warga terus menerus bersembunyi dirumah tampa kepastian yang menyebabkan kebangkrutan total, PHK massal dan kekacauan sosial.

Namun, disisi lain sebenarnya sedih melihat perilaku masyarakat khususnya di kabupaten sumenep. Mereka berpendidikan dan Mereka banyak pegawai negeri sipil (pns ) tapi kenapa pikiran mereka tidak terbuka. Sepertinya, mereka anggap enteng masalah ini.

Padahal, betapa serius dan bahayanya virus ini. Coba kita perhatikan dipasar masih banyak masyarakat yang masih enggan pakai masker. mereka sudah diberi penyuluhan-penyuluhan dan dibagi masker gratis, tapi tetap saja mereka tidak pakai. Bahkan, masker mereka yang dipakainya ditempatkan di dagu dan di dahi,” kata seorang wanita warga sumenep yang enggan disebut namanya pada media ini.

Harapannya, semoga masyarakat sumenep lebih terbuka lagi cara berfikir dan tidak menganggap enteng masalah ini. sebab, betapa seriusnya virus ini. jadi, kita harus berfikir bagaimana diri tetap sehat. tentunya kita harus tetap mematuhi protokol kesehatan,” Pungkasnya.( Noung daeng)

Share Article to :

Leave a comment

      PT KURNIA CIPTA SARANA KARYA
      NO AHU : 002918.AH.0101 - TAHUN 2019
Gemantara News
Berani Memberikan Informasi yang Akurat dan Terpercaya Demi Mencerdaskan Masyarakat Nusantara.

Back to Top