KIJALU DAN UTOMO MENYOROTI PANCAKARSA DITENGAH BENCANA

KIJALU DAN UTOMO MENYOROTI PANCAKARSA DITENGAH BENCANA

Budaya 0 Comment 67

KAB. BOGOR, GemantaraNews

Pancakarsa yang merupakan program kerja Bupati dan Wakil Bupati Bogor terpilih, Ade Yasin-Iwan Setiawan mendapat ujian bertubi-tubi, satu tahun pasca menjabatnya Bupati dan Wakil Bupati Bogor, banyak yang menilai bahwa program mulia ini baru sekedar tagline saja, dari sisi penerapannya program ini harus diuji lagi lebih mendalam karena kenyataan dilapangan belum ada perubahan berarti yang dirasakan masyarakat.

Program Bogor Cerdas, Bogor Membangun, Bogor Sehat, Bogor Maju dan Bogor berkeadaban ini sangat didambakan realisasinya, bukan hanya menjadi slogan-slogan yang terpasang di kedinasan Kabupaten Bogor dan yel yel saat acara-acara yang dibiayai pemda, apalagi sejak awal tahun 2020, Kabupaten Bogor dilanda bencana alam dahsyat yang menuntut keseriusan Pemkab dalam bekerja merecovery keadaan masyarakat pasca bencana yang merenggut korban jiwa.

H+13 pasca bencana, hampir seluruh infrastruktur pelayanan umum rusak berat, sampai hari ini pun anak-anak sekolah belum aktif belajar, padahal jika ada upaya serius, bisa saja sementara ini dibuat sekolah-sekolah darurat di lokasi bencana, belum lagi permasalahan fasilitas ibadah banyak yang rusak, akses infrastruktur hancur-hancuran, minimnya fasilitas MCK dan air bersih serta sarana mencari nafkah pun tertutup material longsoran.

Aktifis sosial politik Kabupaten Bogor yang juga pemerhati media sosial, Susilo Utomo mengatakan “Harusnya saat inilah pemkab Bogor dengan Pancakarsanya membuktikan diri, bencana alam yang terjadi saat ini menimbulkan efek trauma dan efek kemanusiaan yang butuh waktu sangat panjang dalam pemulihannya, butuh langkah strategis dan kebijakan yang pro rakyat jika memang ingin mendapatkan apresiasi dari masyarakat Kabupaten Bogor.”

“Seperti fakta yang kita lihat hari ini, tenda-tenda pengungsi jauh dari kata layak, distribusi bantuan tidak terkelola dengan baik, banyak bantuan menumpuk di satu titik, tapi di titik lain banyak yang mengeluh tidak maksimalnya bantuan, pemkab tidak boleh lepas tangan begitu saja, tanggung jawab mereka sebagai pemimpin Kabupaten Bogor harus diperlihatkan, terlepas nanti apa hasil kajian empiris terkait penyebab bencana ini, intinya sekarang waktunya membuktikan komitmen program kerja yang mereka janjikan kepada masyarakat.” Tutup Utomo.

Saat dihubungi melalui pesan singkat,(15/1/2020) Lulu Azhari Lucky, atau yang akrab disapa Kijalu yang juga mantan anggota DPRD Kabupaten Bogor dari PPP yang saat ini aktif sebagai ketua umum Lembaga Swadaya Masyararakat Madaniyah menambahkan bahwa memang pemkab Bogor hari ini harus terbuka terhadap semua kritik dan masukan dr masyarakat terkait program kerja terutama Pancakarsa.

“Pemkab Bogor harus terus membuktikan diri bahwa pancakarsa menjadi sebuah jawaban dari segala permasalahan yang dikeluhkan masyarakat hari ini, pembuktian akan menjadi sebuah jawaban atas semua kritikan yang mengarah ke PemKab hari ini.”

Menyikapi bencana alam yang terjadi di Wilayah Taman Nasional Gunung Halimun Salak, Kijalu ikut menyoroti salah satu BUMN pertambangan besar yang mengeksplorasi hasil tambang disana, “jangan hanya menyalahkan gurandil, saya tidak sependapat jika kesalahan ini di arahkan ke gurandil, karena seharusnya PT Antam yang sudah mengelola tambang disana berpuluh puluh tahun bertanggung jawab atas penghijauan disana”.

“faktor utama banjir dan longsor di Nanggung, Cigudeg, Sukajaya dan sekitarnya bukan disebabkan penambang liar atau gurandil , akan tetapi dampak dari pergantian musim kemarau panjang, dengan ada curah hujan yang tinggi, dan wilayah lahan yang labil, di dukung juga tidak adanya reklami lahan pasca tambang oleh bumn aneka tambang, dalam hal ini penghijauan yang kontinyu baik yang menjadi kewajiban perusahaan tambang pasca tambangnya, dan pihak kehutanan yang lahannya sudah lama di kelola oleh pertambangan, pemerintah daerah juga kurang tegas di karenakan regulasi pertambangan merupakan kewenangan Gubernur, saat ini bukan saling menyalahkan akan tetapi introspeksi diri dan tanggap atas kenyataan riil” di lapangan, jangan sampai masyarakat kecil yang hanya bagian kecil usaha kokorek cok minerba malah jadi kambing hitam atas keserakahan jabatan semata, dan Allah SWT tidak tidur, camkan itu.” Tutup Kijalu.(IS)

Leave a comment

      PT KURNIA CIPTA SARANA KARYA
      NO AHU : 002918.AH.0101 - TAHUN 2019
Gemantara News
Berani Memberikan Informasi yang Akurat dan Terpercaya Demi Mencerdaskan Masyarakat Nusantara.

Back to Top