ERA BARU PERTANIAN ACEH UTARA HADIRNYA MESIN DAN TERSINGKIRNYA BURUH TANI

ERA BARU PERTANIAN ACEH UTARA HADIRNYA MESIN DAN TERSINGKIRNYA BURUH TANI

Berita Daerah 0 Comment 28

ACEH UTARA, GemantaraNews

Kehadiran alat-alat pertanian seperti mesin pemanen padi telah membawa perubahan besar bagi kehidupan buruh tani di Kabupaten Aceh Utara. Salah satunya, mekanisasi pertanian ini telah merebut pendapatan dan lapangan kerja buruh tani.

Kemampuan mesin yang bekerja secara cepat, berskala besar serta berbiaya murah membuatnya sulit terelakkan. Para petani umumnya lebih suka menggunakan jasa mesin ini daripada tenaga manusia atau buruh tani. Apalagi dalam kondisi cuaca dengan curah hujan cukup tinggi seperti sekarang, para pemilik terutama yang memiliki areal sawah cukup banyak pasti menggunakan mesin pertanian tersebut.

Untuk jenis mesin bermerek Kubota DC 70 misalnya, mesin mekanis ini mampu memanen padi di atas 7 ton setiap hari.

“Dalam sehari kami bisa memanen padi rata-rata 200 karung gabah. Kalau lembur bahkan bisa mencapai 300 karung,” ujar Zulfikar (31), seorang operator saat panen padi di So (kawasan) Aceh Utara Kecamatan Tanah Luas, senin (11/11/19).

Dalam bekerja ia dibantu dua orang. Saat menjalankan mesin kedua pembantunya mengatur karung-karunng yang berisi padi yang keluar dari perut mesin. Badan mesin ini mampu memuat 8 karung padi.

Jika karung-karung itu sudah penuh maka operator akan meminggirkan kendaraanya dan berhenti sesaat. Kedua personel tadi kemudian menurunkan padi ke pematang sawah lalu diangkut keluar para buruh. Jika harga gabah bagus maka petani umumnya langsung menjual padi-padi mereka di sawah, sedangkan sebagian lagi disisakan untuk keperluan pangan untuk satu tahun ke depan.

Di Aceh Utara saat ini upah kerja mesin ini Rp 350/1600 meter. Zulfikar dan kawan-kawannya berhasil memanen 16000meternya/hari sehingga mereka mengantongi uang Rp 5,6 juta. Menurut Zulfikar secara bisnis usaha mesin panen padi ini relatif menguntungkan karena prospeknya cerah. Tingkat persaingan juga tidak ketat karena masih jarang warga yang memiliki mesin ini.

Harga kontan satu unit mesin seperti yang dikelola Zulfikar, sekitar Rp 500 juta, sedangkan jika kredit mencapai Rp 700 juta bahkan mendekati Rp 1 milyar. Dalam hitungan kotor, pada sekali musim panen dirinya mampu mendapatkan uang sekitar Rp 250 juta.

“Bila membeli cash maka dalam dua tahun (dua kali musim panen) harga mesin ini bisa lunas,” ujarnya.

Zulfikar sendiri menjadi operator mesin milik tetangganya yang sudah berusia dua tahun dan kinerjanya masih stabil.

Di sisi lain, kehadiran mesin ini menyebabkan lapangan kerja buruh tani menjadi hilang. Pada tahun-tahun sebelumnya, buruh tani umumnya menggunakan sistem kerja borongan saat memanen padi, mulai dari pemotongan, penumpukan dan perontokan dengan mesin perontok yang melibatkan lebih banyak terserap tenaga kerja. Tetapi kini peluang kerja seperti itu nyaris tidak ada lagi kecuali pada beberapa lokasi sawah yang sulit dijangkau mesin pemanen padi. Yang tersisa kini tinggal menjadi buruh panggul gabah.

Menurut Muklis (27), salah satu buruh, dalam sehari dia dan teman-temannya minimal mendapatkan upah Rp 100 ribu dari pekerjaan sebagai pemanggul gabah. Untuk satu karung padi dengan berat 80-90 kilogram mereka mendapatkan upah minimal Rp 5 ribu hingga Rp 10 ribu.

“Itu tergantung jaraknya. Jika jarak hanya 20 sampai 30 meter minimal Rp 5000 perkarung. Tapi rata-rata kami mendapatkan upah Rp 10 ribu hingga Rp 15 ribu perkarung,” ujar Nadar (21), buruh lainnya.

Mereka umumnya bekerja secara rombongan antara 7 hingga 20 orang, tergantung banyaknya gabah yang harus diangkut. Jika waktu panen serentak maka mereka pun mendapatkan upah yang lumayan. Tahun lalu misalnya, Muklis mengklaim mendapatkan upah hingga Rp 250 ribu perhari. Tapi untuk tahun ini hanya sebagian kecil petani yang mulai memanen padi mereka.(sayful)

Leave a comment

      PT KURNIA CIPTA SARANA KARYA
      NO AHU : 002918.AH.0101 - TAHUN 2019
Gemantara News
Berani Memberikan Informasi yang Akurat dan Terpercaya Demi Mencerdaskan Masyarakat Nusantara.

Back to Top