ASTA TINGGI SUMENEP WISATA RILIGI YANG TERSOHOR DI PULAU JAWA

ASTA TINGGI SUMENEP WISATA RILIGI YANG TERSOHOR DI PULAU JAWA

Budaya 0 Comment 41

SUMENEP, GemantaraNews

Asta Tinggi Sumenep, Madura, Jawa Timur, merupakan salah satu tempat wisata riligi Sumenep yang digemari oleh para wisatawan dari luar daerah. karena, tempat wisata ini sudah tersohor di pulau jawa.

Asta Tinggi sebagai Asta Raja yang maknanya adalah makam para Pangradja atau para Pembesar Kerajaan yang berupa makam atau kuburan bagi Raja Sumenep beserta keluarganya yang letaknya didaratan tinggi. karena lokasi tersebut menunjukkan lokasi makam yang nerada di perbukitan.

Asta Tinggi sudah ada sejak abad ke-16 dan dibangun sekitar tahun 1750 Masehi. luas komplek pemakaman 112,2 meter x 109,25 meter dan dikelilingi tembok yang hanya terdiri dari batu kapur yang tersusun rapi tampa adukan pasir dan semen.

awalnya, Pemakaman Asta Tinggi dibuat oleh Panembahan Somala dan dilanjutkan oleh Sultan Abdurrahman Pakunataningrat I dan Panembahan Natakusuma II.

Namun, arsitektur bangunan dimakam tersebut masi menampakkan dan dipengaruhi dari beberapa kebudayaan yaitu kebudayaan Belanda, arab, china dan jawa. Asta Tinggi memiliki dua bagian dimana bagian barat memiliki corak Jawa. Di bagian timur sendiri lebih dominan corak China, Eropa, dan Arab yang menonjol.

Namun, bangunan bagian barat dari asta tersebut terdiri atas tiga kubah. Di dalam kubah 1 disemayamkan R  Ayu Mas Ireng, Pangeran Anggadipa, Pangeran Seppo, Pangeran Rama, R Ayu Artak dan Pangeran Panji Polang Jiwa. Kubah 2 terdiri atas makam Ratu Ari, Pangeran Jimat, dan R Aria Wiranegara, sedangkan di dalam kubah 3 terdapat makam R Bindara Saod, R Ayu Dewi Rasmana, dan lain-lain.

Makam pertama yang ada di Asta Tinggi adalah makam dari R Mas Pangeran Anggadipa yang merupakan seorang Adipati. Makam perempuan di samping beliau adalah makam dari istrinya yang bernama R Ayu Mas Ireng, R Ayu Mas Ireng sendiri adalah putri dari Panembahan Lemah Duwur.

Dulu pada awalnya, Asta Tinggi tidak memiliki pagar hanya rimba belantara dan batuan terjal. Untuk menghormati Pangeran Anggadipa dan istrinya, Pangeran Rama yang ketika itu menjabat sebagai Adipati Sumenep membangun pagar dengan batu-batu yang disusun rapi.

Salah satu hal yang menarik di situs Asta Tinggi tersebut adanya papan informasi yang ditulis dalam tiga bahasa: Bahasa Caraka, Bahasa Arab dan Bahasa Indonesia. Penempatannya juga berbeda. Informasi yang disajikan merupakan bagaimana situs ini dibangun dan ajakan untuk melestarikannya. Hal ini juga menunjukkan bahwa bahasa tulis yang berkembang di daerah Sumenep adalah tiga bahasa itu.

Namun, pengunjung wisata yang masuk ke pemakaman di dalam gedung utama, melakukan do’a. mereka mendoakan agar jasa-jasa para pendahulu kita ini bisa menjadi amalan baik, atau mendoakan agar tempat ini bisa terus terjaga, karena asta tersebut sebagai salah satu situs sejarah di Kabupaten Sumenep. Biasanya, rombongan-rombongan yang datang dari luar kota juga melakukan hal yang sama.

” Masyarakat Sumenep berharap bagaimana tempat wisata riligi yang berada dikabupaten tetap terjaga, agar situs sejarah disumenep tidak punah,” kata salah seorang warga sumenep pada media.( Noung daeng)

Share Article to :

Leave a comment

      PT KURNIA CIPTA SARANA KARYA
      NO AHU : 002918.AH.0101 - TAHUN 2019
Gemantara News
Berani Memberikan Informasi yang Akurat dan Terpercaya Demi Mencerdaskan Masyarakat Nusantara.

Back to Top